Yogyakarta – Puluhan siswa SMP Negeri 1 Kalasan, Sleman, mengikuti program edukatif bertajuk Bintari, yaitu singkatan dari Bingkai Inspirasi Limbah untuk Tari, sebuah inisiatif yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan pelestarian seni budaya. Dalam program ini, para siswa belajar mengolah limbah plastik menjadi aksesori tari Badui, tarian tradisional khas Kabupaten Sleman yang sarat akan nilai keislaman dan kebudayaan.
Program ini merupakan bagian dari Proyek Kepemimpinan PPG Seni Budaya B2 Gelombang 2 Tahun 2024, dan didukung oleh program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Kegiatan ini berlangsung selama dua pekan: pekan pertama diisi dengan workshop pengenalan dan pelatihan pembuatan aksesori, kemudian pekan kedua difokuskan pada penyelesaian produk.
Sebanyak 20 siswa kelas 7 dan 8 SMPN 1 Kalasan terlibat secara aktif dalam kegiatan ini. Mereka mendaur ulang sampah plastik menjadi aksesori tari, seperti subang (anting besar simbol kehormatan dan kekuatan feminin), songkok (penutup kepala lambang kesopanan dan nasionalisme), serta tongkat (simbol ketegasan dan pelindung nilai budaya).
Ketua kelompok proyek ini menyampaikan bahwa Bintari merupakan bentuk nyata komitmen sekolah dalam mendukung gerakan zero waste serta menjembatani kurikulum dengan kehidupan nyata. “Program ini bukan hanya menumbuhkan kepedulian lingkungan, tapi juga menguatkan apresiasi siswa terhadap seni dan budaya lokal,” jelasnya Riki Romadlon.
Selain menciptakan properti tari, kegiatan ini juga menjadi bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Gaya Hidup Berkelanjutan. Para siswa diajak mengelola sampah secara kreatif, menumbuhkan jiwa kepemimpinan, serta mengembangkan kerja sama tim melalui aktivitas seni.
Melalui program Bintari, penggunaan limbah plastik di Kabupaten Sleman secara tidak langsung menjadi berkurang, sekaligus memberi nilai tambah dalam pementasan seni tari tradisional yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.


Komentar
Posting Komentar